Tidak Setuju Dengan Klaim China, Indonesia dan Jepang Akan Latihan Militer di Laut China Selatan

Must Read

JAKARTAVIEW.ID, JAKARTA – Indonesia dan Jepang berencana untuk menggelar latihan militer bersama di Laut China Selatan di saat sedang meningkatnya ketegangan di wilayah Indo-Pasifik.

Para analis mengatakan bahwa, langkah Indonesia tersebut tidak berarti akan menyelaraskan dirinya dengan Quad, aliansi baru yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS).

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengadakan bahwa pertemuan empat arah dengan rekan-rekan Jepang-nya pada hari Selasa (30/3/2021). Ini merupakan pertemuan kedua sejak 2015.

BACA JUGA:

Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi juga mengatakan bahwa pada hari Minggu bahwa kedua negara telah sepakat untuk meningkatkan kerjasama pertahanan dan meluncurkan latihan bersama di Laut China Selatan.

Melansir dari lama berita Kyodo News, Prabowo dan Kishi yang bertemu pada hari Minggu di awal kunjungan delegasi Indonesia ke Jepang juga akan mendesak agar China untuk tidak mencoba untuk mengubah status quo di Laut China Selatan dan Timur secara sepihak.

Kepada Prabowo, Kishi juga dilaporkan menyuarakan keprihatinan Jepang tentang undang-undang Coast Guard baru China, yang memberdayakan kapalnya untuk menembaki kapal lain di perairan sengketa yang diklaim oleh Beijing tersebut.

Para menteri pertahanan diharapkan akan menandatangani perjanjian pada hari Selasa yang akan memungkinkan Indonesia untuk mendapatkan peralatan pertahanan (alutsista) dari Jepang, menjadikannya negara Asia Tenggara terbaru yang menyetujui kesepakatan tersebut setelah Filipina, Malaysia dan Vietnam.

“Ini adalah kesepakatan penting bagi Indonesia, yang membutuhkan peningkatan pertahanan maritimnya, mudah-mudahan [peningkatan akan mencakup] peningkatan Angkatan Laut atau Angkatan Udara, tetapi saya pikir bahkan ada ruang untuk peningkatan Coast Guard,” kata Natalie Sambhi, pendiri dan direktur eksekutif Verve Research, sebuah penelitian kolektif independen di Perth, Australia yang berfokus pada hubungan sipil-militer di Asia Tenggara.

“Indonesia mungkin tidak dapat menghadapi China dengan sejumlah kapal dari Coast Guard atau Angkatan Laut-nya, tetapi saya pikir memiliki peralatan canggih dan latihan dari negara-negara seperti Jepang setidaknya dapat memberikan rasa percaya diri ketika saatnya tiba,” ujarnya.

Jepang menyumbangkan kapal patroli ke Indonesia pada bulan Februari tahun lalu, tetapi Sambhi mengatakan bahwa lebih dari itu akan dibutuhkan untuk menutupi perairan yang luas di seluru Indonesia.

“Kepala Badan Keamanan Laut tahun lalu mengatakan bahwa mereka hanya memiliki 10 kapal [patroli] dan bahwa mereka membutuhkan 77 kapal, jadi angka-angka itu dengan sendirinya merupakan sinyal langsung tentang betapa bermanfaatnya segala jenis peningkatan bagi Indonesia,” paparnya.

Rincian dari latihan militer bersama belum diumumkan. In Storey, senior fellow dan co-editor jurnal Contemporary Southeast Asia di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan bahwa latihan bersama itu kemungkinan besar akan berlangsung di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.

“Ini menegaskan tekad Indonesia untuk melindungi hak kedaulatannya, terutama di perairan sekitar Kepulauan Natuna,” ujarnya.

Jepang dan Indonesia telah melakukan latihan maritim di ZEE terakhir pada Oktober tahun lalu, yang melibatkan kapal induk helikopter dan kapal perusak serbaguna di lepas pantai barat Kepulauan Natuna.

Storey mengatakan latihan yang akan datang akan menggarisbawahi kesiapan Jepang untuk meningkatkan dukungan pembangunan kapasitasnya kepada para negara Asia Tenggara yang memiliki klaim di wilayah Laut Cina Selatan, di mana Tokyo menjadi semakin khawatir tentang arogansi dari Beijing tersebut.

Indonesia bukan negara yang terlibat sengketa Laut China Selatan, tetapi sebagian ZEE-nya di sekitar Kepulauan Natuna termasuk dalam sembilan wilayah garis putus-putus Beijing, yang mengklaim sebagian besar jalur perairan yang disengketakan tersebut. Selain China, negara lain yang memiliki klaim di kawasan itu adalah Filipina, Malaysia, Brunei dan Vietnam.

Manila mengajukan protes diplomatik terhadap Beijing awal bulan ini setelah melihat lebih dari 200 kapal China di sekitar Whitsun Reef, yang terletak di ZEE Filipina dan sembilan garis putus-putus China di Laut China Selatan.

LAINNYA:

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest News

MRT Jakarta Dorong Kenaikan Jumlah Penumpang Setelah Pandemi

JAKARTAVIEW.ID, - PT MRT Jakarta (Perseroda) menggencarkan sejumlah strategi untuk mendorong kenaikan jumlah penumpang yang turun banyak selama pandemi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -