Demi Melawan Junta Militer, Ibu-ibu Rela Angkat Senjata

Must Read

JAKARTAVIEW.ID, JAKARTA  – Kabur dari perkotaan, sekelompok warga sipil memilih untuk bersembunyi di pedesaan hingga sampai ke pelosok hutan untuk berlatih bela diri, mengangkat senjata dan membuat bom rakitan yang akan dipakai untuk melawan junta militer Myanmar.

Dilansir dari CNN, Para warga tersebut, termasuk perempuan, pelajar, aktivis, pekerja kantoran, hingga para ibu-ibu, belajar cara mengisi senapan dengan peluru, menarik pelatuk granat, dan merakit bom api.

Mereka percaya bahwa melawan adalah satu-satunya cara mengalahkan Tatmadaw, angkatan bersenjata Myanmar yang dinilai paling kejam di dunia pada saat ini.

BACA JUGA:

“Saya melihat militer seperti hewan liar yang tidak bisa berpikir, dan brutal dengan senjata mereka,” ungkap seorang perempuan dari Yangon yang sudah berada di kamp pelatihan di hutan selama beberapa pekan terakhir ini.

“Kita harus menyerang balik mereka (Tatmadaw). Ini kedengarannya agresif, tapi saya yakin kita harus membela diri dari mereka.”

Seorang perempuan muda lainnya juga baru memulai pelatihan militer di hutan. Ia masih ingat, saat kecil berkumpul bersama keluarganya dan diam-diam mendengarkan siaran radio dari BBC, tindakan yang dulu bisa mendapatkan hukuman penjara.

“Saya memutuskan untuk mempertaruhkan hidup saya dan melawan dengan cara apa pun yang mungkin saya bisa,” katanya seperti dilansir dari New York Times.

Ia kemudian berkata, “Jika kita menentang secara serempak, kita akan membuat militer tidak bisa tidur dan hidup tidak aman, seperti yang telah mereka lakukan terhadap kita selama ini.”

Perempuan tersebut mengatakan bahwa pasukan keamanan mengikuti perintah dan tidak memiliki tujuan yang lebih besar.

“Kami memiliki keyakinan politik kami. Kami memiliki impian kami. Ini adalah pertarungan di mana kita harus menggunakan otak dan tubuh kita,” katanya.

Tak hanya warga sipil saja yang melakukan perlawanan, kelompok bersenjata yang selama ini juga bergerilya, mulai memperlihatkan taringnya kepada junta militer.

Pekan lalu, Tentara Kemerdekaan Kachin, yang selama ini berjuang untuk suku Kachin di Myanmar utara, telah melancarkan serangan mendadak terhadap Tatmadaw.

Pada pekan yang sama juga, lima tentara Tatmadaw dibunuh oleh Tentara Pembebasan Nasional Karen, yang berjuang untuk etnis Karen.

“Jika kelompok etnis bersenjata melancarkan serangan, itu bisa membantu meredakan tekanan pada pengunjuk rasa di kota-kota,” kata Padoh Saw Hser Bwe, sekretaris jenderal Serikat Nasional Karen, seperti dilansir dari The Straits Times.

Yang terbaru, kelompok pemberontak di Rakhine, Tentara Arakan (AA), juga mengaku siap bergabung dengan etnis lainnya untuk melawan kudeta militer Myanmar.

“Sangat menyedihkan bahwa orang-orang tidak bersalah ditembak dan dibunuh di Myanmar,” kata juru bicara AA, Khine Thu Kha, dalam sebuah pesan yang seperti dilansir dari berita Reuters, pada hari Selasa (23/3).

Kekejaman aparat militer Myanmar memang tak meluluhkan gerakan pemberontakan sipil terhadap rezim militer di seluruh negeri.

Mulai dari guru, pegawai negeri sipil, dokter, hingga polisi turun ke jalan demi memprotes pengambilalihan kekuasaan pemerintah sipil secara ilegal oleh militer.

Namun, beberapa pihak menganggap bahwa upaya semacam itu tidak akan cukup untuk menaklukkan Tatmadaw. Mereka menganggap militer perlu dilawan dengan cara yang sama ketika mereka menindak para demonstran.

Komisi Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa sampai saat ini, sudah ada lebih dari 200 orang yang tewas dalam bentrokan antara aparat keamanan Myanmar dan pedemo di negara tersebut.

LAINNYA:

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest News

Dishub DKI Buka Peluang Operator Baru Layanan Sepeda Sewa

JAKARTAVIEW.ID, - Dinas Perhubungan DKI Jakarta tengah mengevaluasi penyelenggaraan sepeda sewa atau bike sharing yang diuji coba sejak 2020....
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -